• MA NEGERI 2 TULUNGAGUNG
  • CERDIK BERSEMI BERBUDAYA LINGKUNGAN SEHAT
  • admin@man2tulungagung.sch.id
  • (0355)321817
  • <
  • Pencarian

Senyum Mbok Bakul Pasar Senggol di Masa New Normal

Oleh : Salma Nur Azizah

            Pagi itu, matahari mulai memancarkan panasnya. Suasana Pasar Senggol sudah mulai berdenyut. Banyak pengunjung duduk lesehan menikmati aneka makanan. Asyik sekali kelihatannya. Di luar pasar, sesekali terdengar tangis anak kecil gegara terjatuh ringan dari sepeda. Para tukang parkir terlihat sibuk mengatur kendaraan pengunjung. Demikian pula mbok bakul. Dengan cekatan melayani pembeli yang datang silih berganti.

            “Monggo-monggo parkir mriki tasik kosong (mari-mari parkir sini masih kosong),” ujar Kaseni (63), salah seorang juru parkir di Pasar Senggol sambil meniup peluit yang suaranya terdengar memekakkan telinga.

            Lalu lalang pengunjung yang datang untuk berburu makanan tradisional juga kian riuh. Bahkan, meski hari belum beranjak siang, suasana di dalam pasar terlihat berjubel. Penuh sesak dengan pengunjung. Para mbok bakul yang mangkal di lapak-nya masing-masing, nyaris tak ada yang berhenti melayani sang pembeli. Semua mbok bakul terlihat sibuk di lapak-nya masing-masing.

            “Kawit maeng aku wis mubeng-mubeng, tapi sing ketoke bersih kok kene iki (dari tadi saya sudah keliling, tapi yang kelihatannya bersih kok sini),” kata Anis (40), salah satu pengunjung Pasar Senggol, Minggu, 23 Agustus lalu.

            Sembari menikmati makanan yang dibelinya, pengunjung ini menyempatkan diri bertanya-tanya tentang cara pembuatan cenil, gethuk, kicak, lupis, dan ireng-ireng. Jenis-jenis panganan ini merupakan makanan tradisional khas Tulungagung yang banyak dijajakan di Pasar Senggol. “Ini buatan sendiri ya Buk,” katanya di sela-sela menikmati makanan tradisional yang dibelinya dari lapak Mbok Marsitah.

            Wajah ceria memancar dari raut para mbok bakul. Dengan sabar, mereka men-service para pembeli dengan gayanya masing-masing. Semakin siang, suasana pembeli semakin bertambah ramai. “Monggo-monggo ngersakne nopo, sompil nggeh wonten, pecel wonten, jenang wonten, ampok wonten (Mari-mari ingin apa, sompil juga ada, pecel ada, jenang ada, nasi jagung ada, ” kata Mbok Rusmini (60), salah seorang pedagang makanan tradisional di Pasar Senggol di hadapan pembelinya.

            Mbok Rusmini sekarang memang bisa tersenyum bahagia. Masalahnya, sejak memasuki masa new normal, kini dia bisa kembali berjualan. Kurang lebih sekitar empat bulan sejak pandemi Covid-19, dia berhenti total berjualan. Demikian pula puluhan mbok bakul lain yang berjualan di Pasar Senggol. Semua berhenti total. Kini, setelah memasuki masa new normal, geliat dan aktifitas perekonomian di Pasar Senggol kembali pulih. Pasar Senggol serasa hidup kembali seperti sedia kala.

            “Alhamdulillah bisa berjualan lagi. Sudah empat bulan saya hanya jualan keliling. Penghasilan tidak pasti, kadang laku kadang tidak,” ungkap Mbok Marsitah (57), pedagang  Pasar Senggol yang berjualan makanan tradisional berupa cenil, gethuk, kicak, lupis, ireng-ireng dan sejenisnya.

            Keceriaan para mbok bakul tak bisa dipungkiri, karena barang dagangannya bisa laku dengan laris. Setiap hari, barang dagangannya selalu ludes tak tersisa dibeli para pelanggan. “Laris-laris, lancar-lancar, semoga selalu ngalir rejeki barokah,” ungkap Mbok Marsih (73), sambil mengibas-ngibaskan uang hasil jualannya.

            Eits…, walaupun namanya Pasar Senggol, jangan berprasangka negatif dulu. Pasar Senggol bukan berarti pasar yang identik dengan aktifitas senggol-senggolan, lho. Tetapi, pasar ini merupakan pasar tradisional yang menjual aneka makanan dan jajanan tradisional khas Tulungagung.

            Berlokasi di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pasar ini cukup populer di kalangan masyarakat Tulungagung dan sekitarnya. Selain sebagai jujukan banyak orang untuk mencari kuliner tradisional, Pasar Senggol juga berkembang menjadi semacam obyek wisata keluarga.

            Karena itulah, sekarang Pasar Senggol tidak semata menjadi sentral kuliner tradisional, tetapi juga tempat menjajakan aneka macam kebutuhan. Mulai dari pakaian, perabot rumah tangga, aneka bunga, benih-benih pertanian, sampai mainan anak-anak. Bahkan, di sekeliling pasar kini seolah-olah berubah menjadi arena bermain anak-anak.

            Kehidupan di Pasar Senggol benar-benar menggeliat. Sejak usai subuh, para pedagang sudah mulai berdatangan. Di pagi buta itu, mereka memulai aktifitas dengan menata barang dagangan. Ya, barang dagangan itu ditata rapi untuk memikat pembeli. Sesekali, di sela menata barang dagangan, di antara para pedagang saling berbincang dan bersenda gurau.

            “Yuk nata-nata dagangan. Itung-itung ini juga olah raga,  gerak badan ,” gurau Mbok Kartini (66) kepada mbok bakul lain yang sama-sama menata barang dagangan di lapak-nya masing-masing. Senda tawa para mbok bakul seolah memecah kesunyian dan dinginnya udara pagi Pasar Senggol yang berlokasi sekitar 10 kilometer arah timur jantung Kota Tulungagung.

            Sudah enam minggu-an ini Pasar Senggol dibuka kembali. Dengan berjualan lagi di masa new normal, pendapatan para mbok bakul kembali menggeliat seperti saat sebelum pandemi Covid-19. Sekali jualan, umumnya omzet penjualan seorang mbok bakul, dalam sehari bisa mencapai sekitar satu juta-an. Bahkan, omzet itu bisa lebih jika hari libur.

            “Ya Allah, pasar ditutup akibatnya tidak bisa jualan. Tidak punya pendapatan, padahal setiap hari butuh makan dan bayar biaya sekolah. Sekarang sudah pulih lagi bisa ketiban rejeki,” curhat Mbok Wiji (45), salah satu mbok bakul yang kesehariannya berjualan nasi pecel dan nasi kuning di Pasar Senggol.

            Penarik retribusi, tukang parkir, dan orang-orang yang kesehariannya menggantungkan rejeki dari Pasar Senggol juga bisa tersenyum bahagia. Dengan dibukanya Pasar Senggol, otomatis pendapatan mereka juga mengalir. “Wayahe-wayahe rejeki lancar lagi,” ujar Jaat (48), seorang penarik retribusi pasar sambil berkeliling memungut iuran retribusi harian kepada para mbok bakul.

            Anak-anak pengunjung Pasar Senggol juga tak kalah riang gembira. Mereka bisa bermain sambil jajan-jajan di arena permainan yang ada di sekitar pasar. “Yee… asyik, bisa bermain dan juga beli mainan. Saya juga bisa beli ikan hias,” ungkap Aziz (8), sambil memilih-milih ikan hias kesukaannya.

            Bocah-bocah balita juga bisa menikmati odong-odong diiringi lagu happy birthday, dengan goyangannya mengikuti alunan lagu seraya bernyanyi menggerakkan bibirnya. Mereka terlihat sangat menikmati keceriaan Pasar Senggol ditemani ayah bundanya.

            “Mama… mama, saya mau itu…,” celetuk Adny (4), anak seorang pengunjung dari Desa Bangoan sambil naik odong-odong dan makan es cream seraya jarinya menunjuk pada mainan yang diinginkannya.

            Kegembiraan dengan dibukanya Pasar Senggol juga dirasakan para pelanggan. Mereka mayoritas datang dari luar daerah Desa Bangoan. Bahkan, tak sedikit yang berasal dari luar Kota Tulungagung seperti Kediri, Blitar, dan Trenggalek. Biasanya, para pelanggan menikmati berbagai menu kuliner di Pasar Senggol selepas jalan-jalan, bersepeda santai atau memang secara khusus datang ke pasar tersebut.

            “Habis bersepeda, mampir ke Pasar Senggol kuy! Sambil makan sambil melihat bunga. Tidak banyak uang kalau bisa makan bareng dan lihat aneka bunga kan seneng”, celetuk Mak Sriyati (40), yang masih ngos-ngosan bersepeda dari Blitar bersama rombongan emak-emak lainnya.

            Sekalipun musim pandemi Covid-19, siapa pun butuh kegembiraan, butuh keceriaan, butuh kebahagiaan. Karena itu, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, keceriaan harus tetap bisa didapatkan. Biar Indonesia tetap bahagia. Dan, Pasar Senggol menjadi salah satu alternatif untuk refreshing mendapatkan keceriaan itu. (Salma Nur Azizah, X MIPA 2)

Keterangan Foto : Suasana Pasar Senggol Bangoan di masa new normal (Sumber Foto : dokumen pribadi Salma Nur Azizah)

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LAGI, KARYA ILMIAH SISWA RISET MAN 2 GO NASIONAL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Siswa MAN 2 Tulungagung kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Nasional. Kali ini torehan tersebut diraih oleh siswa dalam kelompok Siswa Ris

15/10/2020 13:48 WIB - HUMAS
GERAKAN AYO MENULIS, SISWA MAN 2 TULUNGAGUNG HASILKAN 7 NOVEL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Meski keberadaan novel hard copy kini perlahan mulai ditinggalkan dan beralih ke versi e-book, novel tetap banyak digandrungi orang yang gemar berimanij

15/10/2020 08:45 WIB - HUMAS
ADAKAN PEMILIHAN KETUA OSIS DI TENGAH COVID-19

  Kab. Tulungagung (MAN 2) – Pandemi Covid-19 tidak menghalangi kegiatan pemilihan ketua OSIS MAN 2 Tulungagung masa bakti 2020/2021. Kegiatan tersebut digelar pada Senin (05

07/10/2020 11:42 WIB - HUMAS
LAGI, TOREHKAN PRESTASI DI TENGAH PANDEMI

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Tim  KIR MAN 2 Tulungagung kembali membuktikan, bahwa pandemic Covid-19 tidak menghentikan semangatnya untuk meraih prestasi terbaik hingga kancah

03/10/2020 11:13 WIB - HUMAS
Pizza Naws Melejit Di Masa Pandemi

Hai Dear … ! Pasti kamu akrab banget nih dengan kata kuliner, sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi daya tarik paling memikat generasi milenial dan terus menjadi topic hangat di d

29/08/2020 10:51 WIB - HUMAS
TikTok Bikin Ceria Saat di Rumah Saja

Oleh : Nila Nafisatul Bashiroh Kelas XII IPS 2   // Nungguin ya// // Cinta ku bukan diatas kertas// // Cintaku getaran yang sama.// // Tak perlu dipaksa// // Tak perlu dicari// //

25/08/2020 08:54 WIB - HUMAS
Di Balik Layar Budaya Pendidikan Indonesia

Mau  ngeluh  salah  kalau  nggak  ngeluh susah. Sungguh dilema selama musim Corona ini. Coba bayangkan sudah lima bulan mendekam di rumah. Sekolah online semak

24/08/2020 08:43 WIB - HUMAS
Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?

Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?   Mutakhir ini, isu adanya rencana penghapusan Ujian Nasional atau UN semakin  disoroti. Ya tentu ada pro kontra nya. Ada yang seratu

24/08/2020 08:15 WIB - HUMAS
Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina

Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina Oleh : Keisha Alayda Fadma XI MIPA 2                 Matahari mul

24/08/2020 08:00 WIB - HUMAS
Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi

Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi Oleh: Fauza Millata Hanifa/XI MIPA 4 “Piye kabare? Isih penak jamanku, toh?” jargon yang dulu, waktu masih memakai seragam merah putih serin

22/08/2020 22:26 WIB - HUMAS