• MA NEGERI 2 TULUNGAGUNG
  • CERDIK BERSEMI BERBUDAYA LINGKUNGAN SEHAT
  • admin@man2tulungagung.sch.id
  • (0355)321817
  • <
  • Pencarian

Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?

Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?

 

Mutakhir ini, isu adanya rencana penghapusan Ujian Nasional atau UN semakin  disoroti. Ya tentu ada pro kontra nya. Ada yang seratus persen mendukung, namun tak sedikit pula yang terang-terangan bilang tidak. Dihapusnya standar “pintar” (anggapan mayoritas orang) yang sudah diterapkan sejak tahun 1950 dan sudah 6 kali berganti istilah ini, merupakan implementasi dari gebrakan baru Nadiem Makarim, selaku pemegang singgasana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak setahun silam.

 Konsep Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim setidaknya memberi gambaran akan lembaran baru untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Tentu penghapusan UN ini bukan satu-satunya. Setidaknya ada empat revolusi yang dicanangkan dalam Merdeka Belajar ini, meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), penghapusan UN, Penyederhaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi yang lebih fleksibel. Memang dari desas-desus yang saya dengar, target dari merdeka belajar ini adalah impian mencetak generasi emas pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia tepatnya di tahun 2045. 

 Sengaja saya mengoceh lewat tulisan opini saya ini tepat disaat bumi pertiwi kita berulang tahun yang ke-75. Sayang seribu sayang, duka pandemic COVID-19 yang belum saja berakhir hari ini, tentu membuat momen “Agustusan” kita tak semeriah tahun-tahun kemarin. Karnaval, parade sepeda hias, lomba baris-berbaris, dan serangkaian gegap gempita perayaan hari merdeka, kini hanya terwakilkan dengan bendera merah putih, umbul-umbul, lampu kelap kelip yang berbaris di sepanjang jalan. Partisipasi orang-orang ini dalam mengisi kemerdekaan tentu jauh lebih baik dari pada mereka yang hanya pasrah dijajah “kemalasan”. Malas untuk mengibarkan bendera karena tak lagi peduli keutuhan bangsa, hafal pancasila satu sampai lima namun ogah-ogahan dalam mengimplementasikannya, bahkan tak sedikit yang acuh tak acuh dengan kemerdekaan yang direbut dengan menggadaikan nyawa. “Merdeka atau Mati” awas kalau lupa!

 Beberapa tahun yang lalu kesadaran dalam diri saya mengenai sistem pendidikan di  Indonesia yang kalah jauh dengan luar negeri (tidak bermaksud merendahkan bangsa sendiri) muncul, saat dimana saya sedang nge-down kala itu. Saya merasakan begitu berat dalam belajar. Banyak sekali tugas yang diberikan, materi-materi terfokus pada hafalan, hafalan, dan hafalan sehingga kreativitas saya sebagai siswa terpenjara. Sedikit-sedikit nilai, sedikit-sedikit tugas, kok rasanya sekolah semakin jauh dari kata tempat belajar, melainkan tempat tunduk pada kualitas nilai raport di akhir semester. Setuju? Tidak setuju juga tidak apa-apa.

 25 tahun lagi harapan dan gambaran masa depan yang lebih baik, dipersiapkan mulai sekarang oleh Kemendikbud melalui konsep merdeka belajar. Melalui langkah revolusi “menghidupkan” suasana kelas dengan membuat aktifitas dikelas menjadi partisipasif bukannya pasif, serta optimalisasi progress pendidikan yang tak ditemui di bangku sekolah. Kalau kata saya, pembelajaran sekarang terasa lebih luwes, terbukti dari terbukannya wahana untuk berbicara dan berkolaborasi di dalam kelas. Itu kata saya, kalian tak harus sependapat.

 Pembelajaran di dalam kelas sementara ini memang dihentikan. Tapi ini sama sekali bukan libur ya teman-teman. Mereka yang menilai pelajar atau bahkan mahasiswa hari ini nyantai-nyantai, bahkan tetangga saya sendiri terang-terangan menyebutnya “libur panjang”, tentu sangat salah kaprah. Kita sendiri yang tahu bagaimana pahit manisnya pembelajaran jarak jauh ini. Manisnya belajar dirumah sendiri, dekat dengan keluarga, dan bebas dengan gaya apa saja, boleh saja ada benarnya. Tapi pahitnya ya jangan ditanya.

 Setidaknya keluhan yang sampai saat ini saya dengar juga masih itu-itu saja. Soal boros paket data, tugas yang tak ada habisnya, tertimpa tangga pula dengan kondisi ekonomi keluarga yang sedang merosot-merosotnya. Apalagi beradaptasi dengan proses belajar mengajar yang tak pernah terbayang dalam benak saya ini juga tidaklah mudah. “Rempong” kalau kata tante saya, yang juga seorang pengajar di sekolah dasar. “apa ndak mikir yang bikin kebijakan! bocah SD ya ndak bisa di samakan cah-cah SMA yang lebih melek teknologi.” celetuknya. Maklum, kadang tante saya ini mulutnya suka asal cablak.

 Menurut saya dalam sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini kita memang kehilangan sosok guru yang senantiasa membimbing kita. Jika berbicara tentang materi yang harus tersampaikan, kita para generasi milenial saya rasa lebih jago kalau hanya soal tanya sama Google.  Tapi yang terpenting dalam pendidikan itu bukan sekedar nilai sempurna dalam lembar tugas. Melainkan kreatifitas, kemampuan berbicara dan berkolaborasi, pelajaran moral, dan bimbingan dalam hal pola pikir lebih kita butuhkan dari sosok seorang guru. Inilah yang sering tidak kami temukan di masa pandemi ketika kita harus patuh untuk berdiam diri dirumah.

 Kebijakan program "dirumah saja" memang berimbas pada mereka yang harusnya menyusur hidup di usia produktif. Mungkin tak lagi perlu saya copy-paste disini hasil googling saya perihal definisi atau pendapat ahli mengenai usia produktif ini. Berbicara tentang ini mari “lemesin aja” dengan apa yang ada di kanan-kiri kita saat ini. Belakangan ini pandangan saya kerap salah fokus pada iklan makanan yang memenuhi akun sosial media saya. Maklum akhir-akhir ini ponsel dan gadget semakin tak lepas dalam keseharian saya. Apakah saya sendiri? Oh! saya yakin tentu tidak. (korban sekolah online pasti faham). Kadang menjadi inspirasi saya sendiri, menengok Whatsapp, Facebook, dan se-peranakannya, yang sudah seperti warung. Semua serba ada, tinggal pilih dan nego harga. Tak hanya makanan, dagangan seorang teman saya bahkan sudah layaknya supermarket. Mulai dari masker, seperangkat make up, sepatu, sandal, baju, bahkan mohon maaf celana dalam tak jarang ikut dipajang. Memang ada-ada saja. Semua bisa dijual, semua bisa jualan.

  Cerita ini datang dari seorang teman saya yang hobi gembor-gembor nge-review produk dagangan onlinenya. Biar ala-ala youtubers katanya. Berangkat dari keadaan pasca diterapkannya sistem belajar mengajar online, tuntutan ekonomi, hingga kini menjadi “ketagihan”, teman yang saya kenal ratunya anak manja ini bahkan mampu meraut omset yang bisa dibilang lumayan. Padahal, modal awalnya bisa dibilang pas-pasan. Berbekal nekat reseller produk dagangan orang, kini postingannya sudah dipenuhi produk buatan sendiri. Rupanya, meski tak berbekal sekolah “jualan”, dengan tekad yang bukan main ini belajar bisnis sambil “jalan” bukan teladan yang sesat.

 Dari gambaran peristiwa di kanan kiri kita, merdeka belajar memang bukan lagi dipelupuk mata. Belajar kini adalah hak siapa saja. Bukan hanya tentang matematika, Bahasa Indonesia dan IPA, tapi juga tentang belajar memetik hikmah dari setiap peristiwa yang datang menerpa. Merdeka Belajar mengajarkan kepada kita bahwa, sejatinya hidup ini adalah pembelajaran. Hanya terkadang, sedikit dari kita yang dapat memetik hikmahnya. Halimaturrohma R./XI-MIPA5

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LAGI, KARYA ILMIAH SISWA RISET MAN 2 GO NASIONAL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Siswa MAN 2 Tulungagung kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Nasional. Kali ini torehan tersebut diraih oleh siswa dalam kelompok Siswa Ris

15/10/2020 13:48 WIB - HUMAS
GERAKAN AYO MENULIS, SISWA MAN 2 TULUNGAGUNG HASILKAN 7 NOVEL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Meski keberadaan novel hard copy kini perlahan mulai ditinggalkan dan beralih ke versi e-book, novel tetap banyak digandrungi orang yang gemar berimanij

15/10/2020 08:45 WIB - HUMAS
ADAKAN PEMILIHAN KETUA OSIS DI TENGAH COVID-19

  Kab. Tulungagung (MAN 2) – Pandemi Covid-19 tidak menghalangi kegiatan pemilihan ketua OSIS MAN 2 Tulungagung masa bakti 2020/2021. Kegiatan tersebut digelar pada Senin (05

07/10/2020 11:42 WIB - HUMAS
LAGI, TOREHKAN PRESTASI DI TENGAH PANDEMI

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Tim  KIR MAN 2 Tulungagung kembali membuktikan, bahwa pandemic Covid-19 tidak menghentikan semangatnya untuk meraih prestasi terbaik hingga kancah

03/10/2020 11:13 WIB - HUMAS
Senyum Mbok Bakul Pasar Senggol di Masa New Normal

Oleh : Salma Nur Azizah             Pagi itu, matahari mulai memancarkan panasnya. Suasana Pasar Senggol sudah mulai berdenyut. Ba

30/08/2020 10:43 WIB - HUMAS
Pizza Naws Melejit Di Masa Pandemi

Hai Dear … ! Pasti kamu akrab banget nih dengan kata kuliner, sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi daya tarik paling memikat generasi milenial dan terus menjadi topic hangat di d

29/08/2020 10:51 WIB - HUMAS
TikTok Bikin Ceria Saat di Rumah Saja

Oleh : Nila Nafisatul Bashiroh Kelas XII IPS 2   // Nungguin ya// // Cinta ku bukan diatas kertas// // Cintaku getaran yang sama.// // Tak perlu dipaksa// // Tak perlu dicari// //

25/08/2020 08:54 WIB - HUMAS
Di Balik Layar Budaya Pendidikan Indonesia

Mau  ngeluh  salah  kalau  nggak  ngeluh susah. Sungguh dilema selama musim Corona ini. Coba bayangkan sudah lima bulan mendekam di rumah. Sekolah online semak

24/08/2020 08:43 WIB - HUMAS
Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina

Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina Oleh : Keisha Alayda Fadma XI MIPA 2                 Matahari mul

24/08/2020 08:00 WIB - HUMAS
Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi

Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi Oleh: Fauza Millata Hanifa/XI MIPA 4 “Piye kabare? Isih penak jamanku, toh?” jargon yang dulu, waktu masih memakai seragam merah putih serin

22/08/2020 22:26 WIB - HUMAS