• MA NEGERI 2 TULUNGAGUNG
  • CERDIK BERSEMI BERBUDAYA LINGKUNGAN SEHAT
  • admin@man2tulungagung.sch.id
  • (0355)321817
  • <
  • Pencarian

Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina

Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina

Oleh : Keisha Alayda Fadma XI MIPA 2

 

 

            Matahari mulai naik sejajar dengan kepala. Angin berhembus sepoi ketika gadis itu termenung di kursi toko sambil menunggu pelanggan datang. Tepat sekali. Saat itu juga terdengar suara knalpot sepeda motor mendekat. Gadis berjilbab itu dengan sigap berdiri. Mendekat ke etalase toko untuk melayani sang pembeli.

“Cari apa, Mas?” tanya gadis itu kepada pelanggan yang baru datang dan dengan santainya memarkir motor hitam itu di depan toko. Ketika barang yang diperlukan didapatkan, lelaki itu menyerahkan uang pas. Dan, dia pun pergi dengan motornya.

Fairuz Salwa, nama gadis itu. Setelah memasukan sejumlah uang ke dalam laci, ia kembali duduk menunggu. Sesekali, dia terlihat membenarkan posisi kerudungnya. “Beginilah aktivitas saya sehari-hari saat sekolah diliburkan. Walaupun ada tugas daring, saya mengerjakannya di toko. Biasa, bantu ayah sama ibuk,” jelas gadis itu dengan senyum cerahnya.

Gadis yang akrab disapa Salwa ini tengah melakukan dua kegiatan : mengerjakan tugas Biologi sambil menjaga toko keluarganya. Salwa adalah pelajar MAN 2 Tulungagung yang kini duduk di kelas 11. Gadis ini tinggal di Dusun Jabalan, Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

 

            Desa tempat tinggal Salwa adalah wilayah yang sempat menghebohkan Indonesia. Pasalnya, ketika musim Pandemi Covid-19, secara resmi pemerintah daerah mengkarantina desa ini secara penuh. Selama 14 hari, aktifitas keluar masuk ke desa yang berjarak sekitar 15 kilometer arah timur jantung Kota Tulungagung ini dihentitakan total.  Itu dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

 

            Gadis itu kemudian mengubah mode laptop yang ia gunakan untuk mengerjakan tugas menjadi mode sleep. Ketika dimintai izin untuk diwawancarai, Salwa mengangguk dengan senyum hangat. “ Apa yang bisa saya bantu?” tanya dia sambil membetulkan posisi laptop.

            Salwa hanya terkekeh ketika ditanya soal karantina yang diberlakukan di desanya beberapa bulan lalu. “Ya seperti itu, saking banyaknya yang dinyatakan positif rapid maupun swab. Padahal Jabalsari itu hanya sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Saya juga heran kenapa banyak sekali yang positif.” ujarnya ketika ditemui di rumahnya, Minggu (18/08/2020).

            Dia pun menjelaskan bagaimana situasi ketika dengan mendadak desanya dikarantina. Waktu itu, kenang Salwa, terdengar banyak suara dan mobil yang berdatangan. “Wah saya hari itu kaget sekali,” kenang Salwa seraya menyatakan, pagi-pagi dirinya mendapatkan kabar bahwa Desa Jabalsari dikarantina kira kira selama 14 hari.

            Karena rumahnya bersebelahan dengan balai desa, Salwa bisa mendengar keramaian suara mobil polisi dan ambulan di sana. Bahkan, dia juga melihat truk pemadam kebakaran. “Kata ayah, mereka datang untuk menyemprot disinfektan di jalan supaya semua steril,” imbuhnya. Salwa menjelaskan, suara sirene kala itu seperti sahut menyahut, karena banyaknya mobil polisi dan ambulan yang silih berganti berdatangan.

            Dia mengaku tidak bisa keluar rumah sama sekali ketika diberlakukan karantina di desanya. So, semua aktifitas harus dilakukan dari rumah. Stay at home. “Kalau teman teman masih bisa keluar, saya tidak bisa keluar rumah saat desa mendadak dikarantina,” imbuhya.

Ketika ada pemberlakuan karantina desa, lanjut Salwa, dirinya sempat cemas memikirkan caranya belajar daring jika paketan datanya habis. “Wah, cemas juga rasanya. Gimana kalau paketan habis. Mau beli nggak berani keluar. Toko saya kan nggak menjual paketan,” cerita Salwa mengenang masa-masa menegangkan saat diberlakukan karantina di desanya selama 14 hari.

            Dia lantas menceritakan suka dukanya belajar jarak jauh dari rumah selama Pandemi Covid-19. “Suka dukanya itu jelas ada. Kalau di rumah bisa lebih bebas. Mengerjakan ini sambil mengerjakan itu. Kadang kalau sedang repot, minta izin kepada guru untuk meminta waktu luang. Pasti dimaklumi, karena di rumah pasti ada tugas tambahan,” paparnya. Dia menyayangkan ada beberapa guru di sekolah lain menyuruh muridnya supaya mengumpulkan tugas langsung di sekolah walau diberi materi di rumah.

            Salwa kemudian menunjuk rak-rak dan etalase yang berisi berbagai macam alat tulis. Ia dan keluarganya telah mengelola toko yang menyediakan alat tulis selama kurang lebih enam tahun. “Ayah kadang sibuk di kolam dengan guramehnya. Ibuk, walau hanya ibu rumah tangga, juga punya kesibukan. Kalau tugas saya tidak berat-berat banget, saya bisa mengerjakan tugas sambil menjaga toko,” ungkapnya dengan tenang.

            Salwa mengaku cukup bersyukur karena guru-gurunya tidak sering memberi materi yang memberatkan memori internal handphone alias memerlukan kuota yang banyak. “Kadang hanya dikasih materi, contoh soal, dan tugas. Walau begitu, saya sudah paham, kok,” jelasnya.

            Saat ditanya apa perbedaannya sebelum dan setelah desanya dikarantina, Salwa menopang dagu. Matanya menatap pada langit-langit toko. “Kalau sekarang jelas lebih mudah. Bisa keluar mencari WIFI, atau beli buku yang sekiranya saya butuhkan,” pungkas dia membandingkan kondisi saat desanya dikarantina dengan kondisi setelah status karantina sudah tidak diberlakukan lagi.

            Lalu, bagaimana ketika materi yang diberikan gurunya kurang dipahami? Salwa menjelaskan, sekarang banyak website dan aplikasi di Indonesia yang menggratiskan pelajar untuk belajar online. “Alhamdulillah, aplikasi tentang pendidikan itu kadang kuotanya banyak yang gratis. Dan materi yang di sampaikan mudah. Kalau begini, kami masih tetap bisa belajar bagaimanapun keadaanya,” terangnya.

            Selain Salwa, ada Faricha yang sama-sama pelajar MAN 2 Tulungagung dan tinggal di Desa Jabalsari. Ketika ditanya suka duka belajar daring saat desanya menjalani karantina, gadis itu menghembukan nafas berat. “Nggak enak sekali, tidak ada uang jajan, jenuh hanya di rumah. Kadang juga sulit memahami materi pelajaran karena tidak dijelaskan secara langsung oleh gurunya,” ungkapnya.

            Begitupun orang tua. Banyak di antara mereka khawatir dengan pendidikan anak-anaknya yang ikut terganggu akibat karantina. “Bagaimana, ya, pembelajaran daring itu satu- satunya cara supaya anak saya masih bisa mempelajari materi pelajaran. Soalnya kan karantina itu tidak boleh kemana-mana. Tapi ya itu, resikonya. Murid yang handphone-nya lemot lah, tidak ada akses internet lah, apalagi kalau paketannya habis. Tapi mau bagaimana lagi,” ujar Cahyo (44), salah satu orang tua siswa di Desa Jabalsari.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LAGI, KARYA ILMIAH SISWA RISET MAN 2 GO NASIONAL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Siswa MAN 2 Tulungagung kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Nasional. Kali ini torehan tersebut diraih oleh siswa dalam kelompok Siswa Ris

15/10/2020 13:48 WIB - HUMAS
GERAKAN AYO MENULIS, SISWA MAN 2 TULUNGAGUNG HASILKAN 7 NOVEL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Meski keberadaan novel hard copy kini perlahan mulai ditinggalkan dan beralih ke versi e-book, novel tetap banyak digandrungi orang yang gemar berimanij

15/10/2020 08:45 WIB - HUMAS
ADAKAN PEMILIHAN KETUA OSIS DI TENGAH COVID-19

  Kab. Tulungagung (MAN 2) – Pandemi Covid-19 tidak menghalangi kegiatan pemilihan ketua OSIS MAN 2 Tulungagung masa bakti 2020/2021. Kegiatan tersebut digelar pada Senin (05

07/10/2020 11:42 WIB - HUMAS
LAGI, TOREHKAN PRESTASI DI TENGAH PANDEMI

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Tim  KIR MAN 2 Tulungagung kembali membuktikan, bahwa pandemic Covid-19 tidak menghentikan semangatnya untuk meraih prestasi terbaik hingga kancah

03/10/2020 11:13 WIB - HUMAS
Senyum Mbok Bakul Pasar Senggol di Masa New Normal

Oleh : Salma Nur Azizah             Pagi itu, matahari mulai memancarkan panasnya. Suasana Pasar Senggol sudah mulai berdenyut. Ba

30/08/2020 10:43 WIB - HUMAS
Pizza Naws Melejit Di Masa Pandemi

Hai Dear … ! Pasti kamu akrab banget nih dengan kata kuliner, sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi daya tarik paling memikat generasi milenial dan terus menjadi topic hangat di d

29/08/2020 10:51 WIB - HUMAS
TikTok Bikin Ceria Saat di Rumah Saja

Oleh : Nila Nafisatul Bashiroh Kelas XII IPS 2   // Nungguin ya// // Cinta ku bukan diatas kertas// // Cintaku getaran yang sama.// // Tak perlu dipaksa// // Tak perlu dicari// //

25/08/2020 08:54 WIB - HUMAS
Di Balik Layar Budaya Pendidikan Indonesia

Mau  ngeluh  salah  kalau  nggak  ngeluh susah. Sungguh dilema selama musim Corona ini. Coba bayangkan sudah lima bulan mendekam di rumah. Sekolah online semak

24/08/2020 08:43 WIB - HUMAS
Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?

Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?   Mutakhir ini, isu adanya rencana penghapusan Ujian Nasional atau UN semakin  disoroti. Ya tentu ada pro kontra nya. Ada yang seratu

24/08/2020 08:15 WIB - HUMAS
Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi

Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi Oleh: Fauza Millata Hanifa/XI MIPA 4 “Piye kabare? Isih penak jamanku, toh?” jargon yang dulu, waktu masih memakai seragam merah putih serin

22/08/2020 22:26 WIB - HUMAS