• MA NEGERI 2 TULUNGAGUNG
  • CERDIK BERSEMI BERBUDAYA LINGKUNGAN SEHAT
  • admin@man2tulungagung.sch.id
  • (0355)321817
  • <
  • Pencarian

Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi

Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi

Oleh: Fauza Millata Hanifa/XI MIPA 4

“Piye kabare? Isih penak jamanku, toh?” jargon yang dulu, waktu masih memakai seragam merah putih sering terdengar di telinga, terbaca dengan mata saya. Berbentuk stiker yang tertempel di toko-toko kelontong, tiang listrik, temboktembok polos, bahkan menjadi ikon cantik di bak-bak truk antar kota atau provinsi. Saya heran dengan kenikmatan pada masa orde baru tersebut. Apakah rasa solidaritas tidak berlaku pada saat itu? Sebentar, ”rasa solidaritas” ini berbeda pengartian, ya. Solidaritas antar pejabat korup, memberi dan menerima, membungkam kebenaran yang ada. 

Ternyata, sebagian orang berpendapat bahwa jargon tersebut adalah sebuah bentuk kerinduan, romantika. Saya mulai sadar ketika suatu hari diajak seorang teman untuk hangout ke salah satu warung kopi di daerah kota. “Pak, izin badhe teng kafe,” ujar saya ketika akan berangkat.

“Arep nyapo?” Tanya bapak sambil menghentikkan aktifitasnya memasak pakan ayam.

“Pados wifi kalih rencang-rencang” jawabku.

“Bocah zaman sekarang iki, tujuan ngopi mesti cari wifi, sibuk karo HPne dewe-dewe.

Padahal, jamane bapak mbiyen ngopi kuwi cerito-cerito karo konco. Cangkruk neng warung kopine Mbah Kuwot, mbahas kerjoan lan liyo-liyo. Nah, teko guyonan neng warkop kuwi urip karo liyo iso guyub rukun.”    

Warung kopi Mbah Kuwot memang legendaris. Resep turun-temurun secangkir kopi hitam yang jauh berdiri sebelum saya lahir. Lahirnyapun, saya tidak tahu. Karena tidak ada acara giveaway atau party-party grand opening, yang sebelumya dipost di media sosial. Proses marketing zaman sekarang.

Di warkop ini, disediakan beberapa meja kursi dan tempat lesehan. Pelanggannya  ya, masyarakat desa saya sendiri. Dengan harga kopi yang murah serta sajian gorengan, mereka berbincang-bincang atau mengeluh tentang sebuah permasalahan. Setelah paginya penat  bekerja seharian. Masyarakat yang terkesan guyub rukun dengan budaya ngopi di pedesaan.

Dari segi politik dan ekonomi, zaman sekarang memang lebih baik. Pemerintahan otoriter  yang berujung krisis moneter, berubah menjadi pemerintahan yang menerapkan prinsip demokrasi untuk memakmurkan negeri. Tapi, mari kita tilik dari kacamata budaya! Apakah yang dimaksud dengan kalimat “Isih penak jamanku” memang betul adanya? 

Hidup di zaman yang serba canggih, menuntut masyarakat cenderung bersikap  individualis, hedonis, dan apatis. Keseharian bangun tidur buka HP, cek Whatsapp, scrool Instagram. Tinggal pencet-pencet, sarapan datang. Upload story, tahunya viral. Hingga main game matimatian sampai tidak sadar jika benar-benar kecanduan. Efek yang sejatinya lebih mematikan. Gadget telah menjadi makanan keseharian bagi penduduk dunia. Kecanggihan teknologi telah merubah kodrat manusia. Yang awalnya makhluk sosial, sudah  tidak bersosial. Pengaruh  teknologi yang membuat kecanduan. Tak heran jika memang ada orang tua yang tidak kuat dengan keberadaannya, karena budaya zaman old lebih peduli dengan lingungan sekitar dan lebih mengedepankan  kehangatan serta kebersamaan dalam hidup bermasyarakat.

Saya sendiri juga merasakan pengaruh ketergantungan yang sangat besar dari barang  canggih ini. Apalagi jika dikomplikasikan dengan internet. Sebuah kesatuan yang dapat membuat seseorang betah rebahan tanpa melakukan suatu kegiatan. Jaringan yang begitu mempersempit jarak, menyediakan berbagai macam berita dan suatu karya entertaintment dari berbagai belahan dunia. Terutama di saat pandemi seperti ini, kehadiran teknologi dengan berbagai perkembangannya yang pesat semakin aplikatif menjawab seluruh kegelisahan mesyarakat. Sayapun, beranggapan bahwa istilah new normal tidak hanya bebicara tentang cara manusia  untuk survive berdampingan dengan Covid-19, tetapi juga bagaimana manusia hidup berdampingan dengan kecanggihan teknologi. Mengapa tidak? Karena saya dulu hanya berpikiran bahwa sekolah itu, ya, duduk di bangku kelas, bertemu guru dan kawan-kawan. Namun disaat pandemi, adanya kebijakan PJJ dan pengembangan aplikasi di bidang pendidikan seperti e-learning, Google Classroom, Zoom Meeting, dan sebagainya semakin membuat saya tersadar akan kemajuan teknologi.

Terlepas dari pembahasan panjang tentang kecanggihan dan keefektifan teknologi dalam kehidupan manusia. Dampak negatifnyapun, begitu besar dirasakan terutama pada gaya hidup generasi millenial.    Fakta lain yang saya rasakan, fokus sebuah pertemuan dengan teman-teman bukan lagi sebuah kebersamaan. Karena saya juga pernah merasakan hari-hari dimana gadget belum datang, jauh berbeda dengan sekarang. Kumpul-kumpul seakan sebuah formalitas untuk pembahasan suatu hal viral yang ada di media sosial, atau untuk upload feed dan story di Instagram. Dengan ini, warganet membutuhkan salah satu tempat instagramable yang cocok untuk foto keren mereka. Salah satunya warung kopi.

Warkop atau warung kopi, sekarang tergantikan dengan kehadiran kafe. Sebenarnya sama saja, tujuan utamanya menjual kopi. Tapi, cara pandang dari masyarakat yang berbeda. Warung menggambarkan sebuah toko, kedai, kios yang cenderung ada di pedesaan. Sedangkan kafe, cenderung berada di sebuah kota yang perannya dimodifikasi dengan menjual berbagai makanan dan juga minuman lainnya. Fisiknya pun, juga berbeda. Modifikasi bentuk yang lebih menarik dengan menu-menu yang cocok di lidah masyarakat lokal. Prinsip glokalisasi yang diterapkan oleh investor-investor pintar.

Waktu itu bapak saya memberi saran, “Kenapa ndak di warkop Mbah Kuwot?”  Ya, saya pikir, ngapain saya ke sana. Tujuan saya kan, sekalian cari tempat yang bagus, nyaman, plus ada wifinya. Lah, di warung Mbah Kuwot, bisa dibilang jauh dari kata tersebut. Timbul pemikiran di otak saya, gambaran budaya ngopi yang berbeda antara desa dan kota. Di pedesaan masih ada rasa kebersamaan karena pembelinya memang berasal dari penduduk sekitar. Berbanding terbalik dengan di kota, antar pelanggan saling tidak kenal. Tetapi, kafe-kafe semakin menjamur di perkotaan, bahkan sampai kota kecil sekalipun.

Dibangun di tengah-tengah live music, karaoke, free wifi, dan berbagai pilihan menu kopi yang bermacam-macam. Americano, latte, espresso, cappuccino dan lain sebagainya. Disajikan dengan kemasan-kemasan yang menarik dan lebih fleksibel jika untuk jalan-jalan atau dibawa pulang. Juga menyediakan berbagai opsi makanan tambahan di bawah gemerlap lampu dan bisingnya kesibukan. 

Andai kata di desa dibuat sedemikian rupa. Dengan pemandangan dan sejuknya hawa desa. Dengan berbagai rasa kebersamaan dan guyub rukun masyarakatnya. Bukankah akan lebih indah jadinya?   Tradisi ngopi yang tetap dipertahankan, namun dengan tambahan fasilitas yang menarik minat untuk datang seperti, free Wifi, live music dan karaoke. Kafe-kafe kekinian, jika ditarik garis demarkasi, ditemukan apa yang disebut oleh Pay Fetel, sebagai basis “Glokalisasi (GlobalLokal)” menghidupkan kembali kearifan local dan mengkontruksi keterampilan global. Dengan jargonnya, “Think Globally Act Locally”, berpikir global, bertindak/berkarakter lokal. Gabungan keduanya ini sungguh apik. Tak jarang kita temukan menu burger rendang di McD, nasi uduk di KFC, sup korea di bungkus mie instan, atau hanya sebatas minum kopi berharga puluhan ribu di teras mal-mal mewah. “Biar keren,” katanya. Padahal, rasa kopi hitamnya lebih mantap bikinan Mbah Kuwot, warung kopi ternama di desa saya.

Sangat disayangkan arus glokalisasi tersebut terjadi di bawah naungan arus kapital atau kepemilikan modal. Mudahnya para artis, selebgram, dan tokoh terkenal menanam investasi. Prinsip yang belum mengakar sampai di warkop-warkop pedesaan. Pemberdayaan melalui dana desa, mungkin cara yang tepat untuk menunjang keadilan sosial  masyarakat pedesaan. Bukan hanya untuk keadilan sosial para pemilik modal.

Saatnya, kita membuka mata di era digital ini. Kita melihat dua gambar yang berbeda dari budaya ngopi di masyarakat Indonesia. Jangan malu ngopi di pedesaan! Kita mau mewujudkan kemandirian masyarakat desa atau menghidupi para investor yang sudah kaya?

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LAGI, KARYA ILMIAH SISWA RISET MAN 2 GO NASIONAL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Siswa MAN 2 Tulungagung kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Nasional. Kali ini torehan tersebut diraih oleh siswa dalam kelompok Siswa Ris

15/10/2020 13:48 WIB - HUMAS
GERAKAN AYO MENULIS, SISWA MAN 2 TULUNGAGUNG HASILKAN 7 NOVEL

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Meski keberadaan novel hard copy kini perlahan mulai ditinggalkan dan beralih ke versi e-book, novel tetap banyak digandrungi orang yang gemar berimanij

15/10/2020 08:45 WIB - HUMAS
ADAKAN PEMILIHAN KETUA OSIS DI TENGAH COVID-19

  Kab. Tulungagung (MAN 2) – Pandemi Covid-19 tidak menghalangi kegiatan pemilihan ketua OSIS MAN 2 Tulungagung masa bakti 2020/2021. Kegiatan tersebut digelar pada Senin (05

07/10/2020 11:42 WIB - HUMAS
LAGI, TOREHKAN PRESTASI DI TENGAH PANDEMI

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Tim  KIR MAN 2 Tulungagung kembali membuktikan, bahwa pandemic Covid-19 tidak menghentikan semangatnya untuk meraih prestasi terbaik hingga kancah

03/10/2020 11:13 WIB - HUMAS
Senyum Mbok Bakul Pasar Senggol di Masa New Normal

Oleh : Salma Nur Azizah             Pagi itu, matahari mulai memancarkan panasnya. Suasana Pasar Senggol sudah mulai berdenyut. Ba

30/08/2020 10:43 WIB - HUMAS
Pizza Naws Melejit Di Masa Pandemi

Hai Dear … ! Pasti kamu akrab banget nih dengan kata kuliner, sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi daya tarik paling memikat generasi milenial dan terus menjadi topic hangat di d

29/08/2020 10:51 WIB - HUMAS
TikTok Bikin Ceria Saat di Rumah Saja

Oleh : Nila Nafisatul Bashiroh Kelas XII IPS 2   // Nungguin ya// // Cinta ku bukan diatas kertas// // Cintaku getaran yang sama.// // Tak perlu dipaksa// // Tak perlu dicari// //

25/08/2020 08:54 WIB - HUMAS
Di Balik Layar Budaya Pendidikan Indonesia

Mau  ngeluh  salah  kalau  nggak  ngeluh susah. Sungguh dilema selama musim Corona ini. Coba bayangkan sudah lima bulan mendekam di rumah. Sekolah online semak

24/08/2020 08:43 WIB - HUMAS
Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?

Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?   Mutakhir ini, isu adanya rencana penghapusan Ujian Nasional atau UN semakin  disoroti. Ya tentu ada pro kontra nya. Ada yang seratu

24/08/2020 08:15 WIB - HUMAS
Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina

Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina Oleh : Keisha Alayda Fadma XI MIPA 2                 Matahari mul

24/08/2020 08:00 WIB - HUMAS